Gerakan Taliban bermula pada tahun 1994, pada saat sebuah kelompok
kecil dari kalangan Talib (pelajar ilmu agama; dalam bahasa Afghan, kata
talib dijamakkan menjadi Taliban, dengan demikian kata taliban berarti
pelajar ilmu agama) dan Mulla Afghan di Kandahar melakukan pengusiran
terhadap para perampok yang biasa merampok kafilah (yang mengadakan
perjalanan) dan melakukan pemerkosaan kepada wanita di sekitar Kandahar.
Para Talib itu, yang dipimpin oleh Mulla Muhammad Umar berhasil
merampas senjata para perampok dan menemukan beberapa wanita yang
diculik dan sebagian lagi dibunuh setelah diperkosa. Sebagian perampok
itu berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman sesuai dengan syariat.
Sebagian dari gerombolan perampok melarikan diri dari Kandahar.
Kemudian, berkembanglah euforia dan semangat di kalangan penduduk
Kandahar, lantas mereka memecat gubernur Kandahar yang berada di bawah
pemerintahan Rabbani, karena ia tidak mampu menghadapi para perampok
itu. Mereka pun mengangkat Mulla Muhammad Umar sebagai amir mereka.
Mulla (Mulla adalah mahasiswa ilmu syariah yang berhenti dari sekolah
sebelum memperoleh gelar, sedangkan maulawi adalah yang telah berhasil
meraih gelar) akhirnya mengumumkan penerapan syariat Islam di Kandahar,
kawasan yang mereka kuasai. Tersebarlah berita keamanan yang terwujud di
kawasan Kandahar, sehingga berdatanganlah delegasi para Talib dan
penduduk kawasan utara dan barat yang bertetangga dengan Kandahar. Para
pelajar agama itu meminta mereka untuk memerintah dan menerapkan syariat
Islam di wilayah-wilayah mereka. Para Talib itu membantu mereka dalam
mengatur wilayah tersebut di bawah kekuasaan mereka dan dalam penerapan
syariat. Dengan demikian, Taliban telah menguasai sekitar seperlima
Afghanistan tanpa peperangan, akan tetapi karena keinginan penduduk
kawasan tersebut akan diterapkannya syariat Islam dan terciptanya
keamanan. Itulah awal mula gerakan ini. Dr. Sami Muhammad Shalih Dallal
melukiskan bagaimana gerakan Taliban sering meraih kemenangan ini tanpa
peperangan. Ia mengatakan:
“Dari rahim sekolah-sekolah agama di Kandahar, dengan fatwa para
ulama di kawasan Mayuan, muncul Taliban pada hari jumat, 15 Muharram
1415 H bertepatan dengan 24 Juni 1994 M di medan konflik perubahan. Ia
berawal dari beberapa belas penuntut ilmu agama yang dipimpin oleh Mulla
Muhammad Umar, kemudian banyak penuntut ilmu yang bergabung dengan
mereka, di mana kebanyakan mereka itu lulusan Universitas Haqqaniyah di
Peshawar, Pakistan. Dalam sebuah pertemuan besar yang dihadiri oleh 1500
ulama Aghanistan, terpilihlah pimpinan dan perintis gerakan Taliban,
Mulla Muhammad Umar sebagai Amirul Mukminin. Mulailah gerakan Taliban
menaklukkan kawasan-kawasan Afghanistan, satu demi satu, bermula dari
kawasan Ruzajan, dengan pasukan yang jumlahnya hanya sebanyak 313 orang,
di mana kelak kekuasaannya meluas sedikit demi sedikit. Keadaan ini
terus berlangsung hingga akhirnya ia menguasai mayoritas kawasan itu.
Seluruh faksi yang semula saling bertempur sejak kekalahan Rusia pada
tahun 1989 M berhasil dikalahkannya. Pada masa itu, Pakistan mendukung
Taliban dan mempermudah gerakan para Talib ke Afghanistan untuk
bergabung dengan Taliban. Pakistan juga membuka perbatasan untuk suplai
logistik bagi Taliban. Karena kedudukan terhormat para ulama, maulawi,
dan Talib di masyarakat Afghan, Taliban meraih kemajuan dengan menguasai
kawasan-kawasan lain di utara dan timur. Saat itu, Rabbani, sebagai
penguasa di Kabul belum mengumumkan sikapnya, sebagai taktiknya, karena
ia mengetahui bahwa pasukan Hikmatyar-lah yang memisahkan wilayah
kekuasaan mereka dari Kabul. Bahkan, ia menawarkan bantuan kepada mereka
untuk menjadi gerakan agama yang menjalankan tugas untuk melakukan
koreksi serta amar makruf dan nahi munkar. Akan tetapi Hikmatyar
memerintahkan pasukannya untuk tidak menyerah kepada Taliban. Terjadilah
pertempuran di antara mereka di kawasan Ghazni, kemudian ke utara
hingga kawasan Kabul, di mana wilayah kekuasaannya jatuh satu persatu
tanpa peperangan atau dengan peperangan kecil, karena kebanyakan
komandan dan faksi mujahidin, bahkan juga perampok, ragu untuk terjun
berperang melawan para penuntut ilmu agama.
Beberapa faksi lain, seperti faksi Yunus Khalish dan pasukan Haqqani
menyerahkan wilayah kekuasaan mereka kepada Taliban di Paktia dan Khost.
Kebanyakan komandan Sayyaf juga enggan untuk berperang melawan para
Talib itu. Mereka menyerahkan Nankarhar dan Jalalabad kepada Taliban,
karena mereka melihat akhlak para Talib itu, serta tindakan mereka
menerapkan syariat Islam, beramar makruf nahi munkar, mewujudkan
stabilitas keamanan, memburu para perampok, dan mengamankan jalan.
Kemudian, Taliban berhasil mencapai perbatasan Kabul. Mereka menghadap
kepada Rabbani dengan sejumlah tuntutan, yang paling penting di
antaranya adalah penerapan syariat Islam. Kemudian, Rabbani meminta
mereka mengirimkan delegasi untuk berunding dengannya. Akan tetapi,
Mas’ud, menteri pertahanannya, setelah berjanji kepada mereka untuk
menyerahkan senjata, menghentikan peperangan, dan berdialog dengan
mereka, justru mengkhianati mereka pada pagi hari berikutnya dan
membunuh sejumlah qurra dan penghafal al-Quran yang menjadi delegasi
dari para Talib itu. Disebutkan bahwa jumlah orang-orang yang dikhianati
itu, yang dibunuh di dalam masjid mencapai hampir 250 talib. Akhirnya,
Taliban menyerang Kabul, yang dalam waktu singkat berhasil dijatuhkan
pada malam 26 September ’96, karena tidak adanya kepercayaan di antara
dua faksi yang mempertahankannya, yaitu; kelompok Mas’ud dan kelompok
Hikmatyar. Sebelum subuh, Taliban memasuki Kabul setelah terjadi
pertempuran ringan dengan sebagian penjaganya dari kelompok pasukan
Mas’ud, Rabbani, dan Sayyaf. Maka, faksi-faksi itu melarikan diri ke
arah utara, untuk menghentikan peperangan di garis Gunung Siraj, pintu
gerbang koridor Salink, dan kawasan utara. Saat itu, usia Taliban
dihitung dari kemunculannya sekitar dua tahun. Kekuasaan Taliban
berhenti di kawasan timur, selatan, barat, dan barat laut, hingga
kawasan Herat. Sedangkan hampir seluruh kawasan utara yang meliputi
sekitar 15% kawasan Afghanistan dengan ibukotanya Mazar-i Syarif masih
belum dikuasai oleh Taliban.
Pada pertengahan tahun ’97, Taliban bergerak ke arah utara dan dalam
sebuah gerakan cepat berhasil menguasai sebagian besar kawasan utara,
dan jatuhlah ibukota Mazar-i Syarif ke tangan mereka. Saat itu seluruh
dunia menyangka bahwa kekuasaan Afghanistan telah berada di tangan
Taliban. Tetapi, sebagian milisi Uzbek yang semula mengadakan perjanjian
damai dan bekerjasama dengan Taliban, berkhianat. Pengkhianatan ini
menimbulkan pembantaian mengerikan yang menimpa pasukan mereka di utara,
di mana korban pembantaian ini mencapai 10.000 hingga 15.000 pasukan
Taliban, menurut angka-angka yang disebut, dalam pembantaian sadis, di
mana kebanyakan dari mereka dikuburkan hidup-hidup dalam kuburan masal
oleh milisi Uzbek Komunis di Mazar-i Syarif bersama dengan sekutu mereka
dari golongan Syiah.
Maka, Taliban kembali bergerak ke utara dengan penuh waspada, lantas
satu persatu wilayah utara jatuh ke tangah mereka sekali lagi. Maka,
pasukan Dustum pun hancur dan ia melarikan diri ke Uzbekistan. Maka,
tidak ada lagi kekuatan militer yang melawan mereka kecuali pasukan
Mas’ud yang berdiam di sebuah lembah sempit yang terbentang dari Panshir
hingga Gunung Siraj, kemudian ke Tasyarika, hingga ke pintu gerbang
Kabul bagian utara, di mana di situ ia bertahan bersama pasukan pengikut
Sayyaf. Taliban bergerak ke utara mengejar pasukan Mas’ud melalui jalan
Ghurbind, tempat yang sewaktu-waktu bisa dijadikan jalan penyerangan
bagi Mas’ud dan Sayyaf ke arah Kabul, dalam upaya menguasainya dan
mengembalikan neraca kekuatan di Afghanistan, sekali lagi.
Serangan itu benar-benar terjadi ketika pasukan Taliban masih
tersebar jauh dari ibukota Kabul, di mana pada saat itu, Kabul
diselamatkan, setelah oleh karunia Allah, oleh sekelompok mujahidin
Arab.
Pemerintahan Taliban telah mengumumkan penerapan syariat Islam di
seluruh kawasan yang berada di bawah kekuasaannya dengan menjadikan
Kabul yang dikuasainya pada 27-9-1996 sebagai ibukota dan basis gerakan
politiknya dan menjadikan Kandahar sebagai tempat tinggal Amirul
Mukminin dan basis gerakan legislasi dan organisasinya.
Dalam waktu singkat, Taliban telah menguasai hampir seluruh kawasan
Afghanistan (kecuali sedikit kawasan utara yang telah kami singgung
sebelumnya) dengan memproklamirkan tujuan-tujuannya, yang secara ringkas
berupa penerapan syariat Islam secara total, penciptaan stabilitas dan
keamanan di seluruh kawasan negeri Afghanistan, pemulihan bangunan, dan
pembangunan infrastruktur di seluruh kawasan negeri Afghanistan.
Tak lama setelah itu, musuh-musuh Allah di seluruh dunia pun geger.
Mereka memperlihatkan kedengkian mereka, membidikkan anak panah mereka,
dengan harapan mereka bisa mengenai Taliban dalam satu pembunuhan atau
paling tidak mempersempit ruang geraknya. Maka, mereka mulai melontarkan
tuduhan-tuduhan sebagai berikut:
- Taliban telah membawa Afghanistan dari cahaya peradaban yang
gemerlap kepada apa yang mereka sebut sebagai kegelapan syariat Islam.
- Melarang wanita dari kegiatan belajar dan mengajar serta menutup
pintu-pintu rumah untuk menghalangi para wanita keluar dari rumah menuju
sekolah dan universitas.
- Melarang kaum wanita bekerja atau berkarir.
- Mengharuskan kaum wanita mengenakan hijab.
- Melarang minuman keras di seluruh kawasan Afghanistan.
- Melarang musik dan lagu di panggung maupun di tempat-tempat umum.
- Melindungi para teroris dan melatih kelompok-kelompok mujahidin.
- Menanam ganja dan mengekspornya ke seluruh dunia.
- Tidak mematuhi undang-undang internasional dan konvensi-konvensi antar negara.
- Membela kasus-kasus keislaman, khususnya intifadah di Al-Aqsha, Palestina.
Sebagai contoh, Muhammad Hasanain Haikal berkata membawakan sebuah peristiwa menyentuh, ketika ia mengatakan:
“Agen intelijen pusat Amerika terlibat sangat intens terhadap
peroalan Afghanistan, sampai-sampai sekelompok stafnya telah
menghabiskan waktu enam bulan untuk membuat laporan tentang penyimpangan
seksual bagi para pemimpin Afghan serta pentingnya menggunakan
penyimpangan seksual itu sebagai alat untuk menundukkan mereka! Sebagai
contoh nyata, agen intelijen tersebut mensinyalir adanya perang hebat
yang berlangsung selama beberapa bulan antara dua orang pemimpin yang
kedua-duanya jatuh cinta kepada anak kecil yang ditemukan oleh salah
seorang dari kedua pemimpin itu, lantas diculik oleh yang lain.”
Ya, Imperium Setan ini telah memproduksi sesuatu paling rendah yang
ada pada diri manusia yaitu nafsu seks, bermain dengan dan di atasnya.
Sesungguhnya, setiap orang memiliki titik kelemahan, jika kelemahan itu
tidak ditemukan, Anda bisa menciptakannya dengan memberikan iming-iming
dan menyesatkannya. Jika Anda tidak berhasil juga, Anda bisa
mempublikasikan kelemahan itu agar kebohongan-kebohongan dan
kedustaan-kedustaan mengenainya tersebar luas. (Sumber: Dr. Muhammad
Abbaas, “Bukan… Tapi Perang terhadap Islam” (diterjemahkan oleh Ibnu
Bukhori), Solo: Wacana Ilmiah Press, Cet. I, April 2004, hal. 236)
Dalam tuduhan-tuduhan ini, mereka telah mencampuradukkan antara
kebenaran dan kebatilan. Kebanyakan tuduhan tersebut tidak memiliki
dasar kebenaran sama sekali, melainkan semata-mata merupakan kebohongan
murahan. Kebanyakan darinya bahkan merupakan mahkota yang berkilau yang
dipasangkan di dahi Taliban.
Adapun pihak-pihak yang berada di belakang tuduhan-tuduhan ini
adalah: Amerika Serikat, Uni Eropa, Republik Rusia, beberapa republik
Islam yang merdeka setelah kejatuhan Uni Soviet, India, Yahudi di
Palestina, sebagian besar negara Islam, PBB, kaum sekuleris di seluruh
negara. Semua tuduhan ini dilontarkan melalui surat kabar, majalah,
buku-buku, siaran radio dan televisi, internet, dan berbagai media
informasi lainnya.
Seluruh pihak yang telah kami sebutkan tadi telah berhimpun untuk
menjatuhkan pemerintahan Taliban, meski berapapun biaya yang diperlukan
dan meskipun penderitaan yang dialami bangsa Afghanistan semakin parah.
Mereka semua menunjukkan dendam mereka dan berlindung di balik payung
Perserikatan Bangsa-bangsa. Mereka mengepung penuh Afghanistan yang
diperintah oleh Taliban. Mereka memasang pagar-pagar yang mengisolasi
dan menyerangnya dari darat dan udara, agar mereka bisa membunuh bangsa
Afghanistan dengan rasa lapar dan ketertindasan. Kemudian, sesudah itu
mereka akan mengatakan: “Ia dibunuh dan ditindas oleh Taliban!”
Adapun dari dalam, mereka menyebarkan kelompok-kelompok misionaris
yang menjelajahi sebagian besar kawasan Afghanistan dengan alasan untuk
menyelamatkan rakyat Afghanistan yang secara sistematis telah dibuat
lapar dan takut, kemudian mereka datang untuk menjadi juru selamat,
seperti serigala yang berbulu domba.
Jumlah organisasi misionaris yang aktif hingga sekarang di
Afghanistan dan diwarisi oleh Taliban dari masa-masa sebelumnya mencapai
sekitar 240. Surat Kabar Frontie Post yang terbit di Peshawar dengan
bahasa Inggris, pada edisi 10 Desmber 1997, mempublikasikan bahwa
organisasi NGO Men telah berhasil mengkristenkan 100.000 rakyat
Afghanistan selama 7 tahun (mulai tahun 1990 hingga 1997).
Taliban telah mengumumkan penerapan syariat Islam di seluruh bidang
kehidupan. Mereka mengeluarkan beberapa keputusan menyangkut persoalan
wanita dan perlindungannya dari penyimpangan. Mulla Muhammad Umar
berkata: “Kita tidak anti pengajaran bagi wanita, tetapi kita ingin
mengatur pengajaran kaum wanita dengan aturan-aturan syariat.”
Taliban juga telah mengeluarkan beberapa keputusan yang melarang
penanaman, produksi, dan pemakan ganja di Afghanistan, di mana sepanjang
sejarah, Afghanistan telah menjadi negara terkemuka pengekspor barang
haram ini.
Ketika semua itu terjadi, maka semuanya menjadi rambu-rambu yang
jelas menunjukkan hakikat gerakan Taliban, tujuan-tujuannya, dan
target-targetnya serta sejauh mana tingkat kebenarannya. Gerakan ini
telah mengajukan solusi bagi Afghanistan yang terkucil. Ia telah
berhasil mewujudkan apa yang gagal diwujudkan oleh gerakan lain dan
berdiri kukuh ketika yang lain surut ke belakang. Berbagai upaya
iming-iming maupun penyesatan tidak mampu membalikkannya dari jalan yang
telah digariskannya, ketika amirnya dengan tegas menyatakan—sebagai
jawaban atas embargo, tekanan, dan tawar-menawar yang diajukan
kepadanya: “Sesungguhnya prinsip-prinsip Islam mengenai pemerintahan
Islam tidak bisa menerima kompromi atau tawar-menawar terhadapnya dengan
apapun juga.”
Adalah mustahil untuk menjelaskan seluruh sepak terjang Taliban,
sekalipun dengan menggunakan seluruh lembaran buku ini, oleh karena itu,
penulis akan memberikan gambaran sepintas, barangkali ini bisa
menghilangkan berbagai kebohongan yang diceritakan mengenainya.
Kita awali dengan kesaksian Mufti Mesir, Dr. Nashr Farid Washil, di mana beliau mengatakan:
“Ketika kita pergi ke sana, kita akan mendapati bahwa realitas
Afghanistan berbeda sama sekali dari apa yang digambarkan dan disiarkan
oleh media massa Barat tentang Taliban dengan berbagai pengekangan,
pengungkungan wanita, dan perkebunan ganja. Kami semua, sebagai
delegasi, semula memiliki kesan kuat di benak kami bahwa Taliban
benar-benar telah mengangkat syiar Islam sebagai solusi, tetapi mereka
kemudian menanam ganja untuk membiayai gerakan mereka. Media massa Barat
menyiarkan bahwa mereka mengekang dan melarang kaum wanita dari
aktivitas mengajar, mengemudi mobil, dan sebagainya, bahwa mereka begini
dan begitu. Tapi, di sana terlihatlah fakta yang tak pernah terlihat
itu, bahwa mereka tidak menanam ganja, melainkan membentuk
kelompok-kelompok untuk memberantas pertanian ganja, bahkan benar-benar
membakar perkebunannya. Mereka melarang ada satu pohon ganja pun dalam
pemerintahan mereka!
Adapun kaum wanita, maka kami melihat mereka ada di jalan raya, di
sepanjang jalan raya. Mereka mengatakan: bahwa apa yang dipublikasikan
itu keliru. Yang benar adalah, ‘karena kurangnya sekolah dan gedung
sekolah, disebabkan oleh kondisi pengajaran yang buruk di negeri kami’,
maka kami mulai menyiasati keadaan, yaitu bahwa anak laki-laki,
khususnya yang tertua akan menjadi penanggung jawab dan penting bagi
keluarganya; oleh karena itu, kami mengutamakan saudara laki-laki paling
besar daripada saudara-saudara lainnya, sekalipun mereka juga sama-sama
laki-laki, agar mendapat tempat di sekolah. Maka laki-laki tertualah
yang paling utama. Jadi, permasalahannya bukan perempuan atau laki-laki,
melainkan keadaan telah mengatur aktivitas dan sikap kami. Jika keadaan
pengajaran membaik, tentu setiap anak perempuan akan mendapat tempat
seperti anak laki-laki.’
Sebenarnya, kami sangat terkejut dengan keadaan yang disiarkan secara
bohong oleh media informasi Barat. Saya mengakui bahwa saya pribadi
dulu mempercayai semua pemberitaan menyangkut Taliban, akan tetapi
setelah melakukan kunjungan itu, seluruh delegasi tanpa terkecuali yakin
tentang ketidakobjektifan media massa Barat dan upayanya untuk
menyesatkan seluruh dunia, khususnya mengenai realitas Taliban dan
Afghanistan.
Terus terang, saya juga menganggap kunjungan ini seluruhnya bernilai
positif, karena dengan kunjungan ini kami mengerti sejauh mana
kebohongan informasi-informasi yang dipublikasikan oleh media massa
Barat.
Saya katakan: sudah waktunya negara-negara Islam untuk mulai mengakui
pemerintahan Taliban. Ini merupakan pendapat delegasi Organisasi
Konferensi Islam (OKI) dan pendapat saya pribadi. Saya katakan, sudah
waktunya kita memahami bahwa kebanyakan kekuatan politik internasional
menghendaki kondisi menyedihkan ini, di mana kekuatan-kekuatan ini
berupaya menciptakan perpecahan di antara saudara-saudara seagama.
Karena itu, saya menyerukan kepada dunia Arab dan Islam untuk merevisi
sikapnya terhadap pemerintah Taliban.”
sekian info dari saya semoga bermanfaat
sumber=unseen hand